Senin, 20 Oktober 2014

Miskin di tanah sendiri

Oleh : Heril Edy
Sepanjang perjalanan, ada 4 pengendara motor yang saya lihat mendorong motornya sendiri. Bukan karena ban bocor, mesin bermasalah atau rantai yang putus. Tapi lebih kepada hal yang "sepele". Kehabisan bensin. Bahkan saya sendiri sudah was-was kehabisan bensin. Alhamdulillah diperjalanan dapat bensin "wow".
Kehabisan bensin ini bisa dianggap hal "sepele", karena kehabisan bensinnya bukan di daerah miskin BBM, tapi karena kehabisan bensinnya di daerah yang kaya akan BBM, bahkan daerah ini (Kalimantan Timur) merupakan salah satu daerah penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia.
Menurut data yang diambil dari infotambang.com . Produksi di kalimantan Timur total per harinya bisa mencapai 134.626 barrel. Dengan perincian sebagai berikut, 60.331 barrel minyak mentah dan 74.295 barrel kondensat. Kaltim merupakan propinsi terbesar penghasil kondensat di Indonesia., dengan mahakam bloknya. Total yang dioperasikan Pulau Bunyu, Pulau Tarakan dan Balikpapan.
Dengan adanya wacana kenaikan harga BBM Premium pada awal November 2014, dari Rp. 6.500 ke Rp. 9.000, maka seketika BBM berupa premium hilang bagaikan di telan bumi di Bumi Batiwakkal. Antrian di SPBU sepanjang +-1 km, memaksa para pengendara motor kecil enggan ikut antri di SPBU dikarenakan kebanyakan yang ikut antri adalah para motor besar atau para pengusaha penjual bensin eceran.
Sangat miris memang, daerah penghasil minyak mentah ini sangat susah masyarakatnya untuk mendapatkan BBM dengan harga yang sewajarnya. Ketika BBM sudah sampai di tangan pengecer, bensin yang harusnya dibeli dengan harga Rp. 6.500 per liter di SPBU, maka harganya bisa melonjak naik hingga 100%, bahkan saya sempat membeli bensin dengan harga wow... Rp. 15.000 per botolnya. Perlu kita ketahui bersama, perbotol itu tidak sampai 1 liter.
Seharusnya ini tidak perlu terjadi. Karena kita kaya akan Sumber Daya Alam, Sumber Daya Alam yang sangat melimpah. Seharusnya semua orang bisa menikmati kekayaan alam di Negri ini. Tidak sampai membuat para warga menjerit. Tidak harus sampai mendorong motor, cukup kami bisa membeli bensin dengan harga yang wajar.
Coba kita perhatikan, adakah Indonesia mengelola Sumber Daya Alamnya sendiri???
Jawabannya TIDAK. Semua dikelola asing dan ini merupakan faktor terbesar mengapa BBM sangat sulit didapatkan dengan harga yang wajar.
Ibarat kita punya sumber mata air di halaman rumah, tapi kita tidak bisa mengambil airnya, malah tetangga kita yang buat sumurnya, mempekerjakan kita sebagai cukongnya dan bilang ke kita:"loe kalau mau ambil air, bayar ke gue ya, hehe...".
Seandainya saja pejabat negara bisa menjalankan amanat undang-undang pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Tapi itu semua hanya sebatas andai-andai. Kami sebagai masyarakat biasa hanya bisa menyampaikan aspirasi. Jika didengar, diterima dan dikabulkan, maka merupakan syukur dan nikmat yang besar bagi kami. Tapi ketika aspirasi kami hanya sekedar angin lalu, maka kami harus siap bekerja lebih keras memeras keringat hanya untuk membeli BBM dan kami akan menjadi korban lagi, lagi dan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar