Minggu, 26 Oktober 2014

Untukmu Bidadari Dunia & Surgaku.

Surat Cinta ini abi tulis saat istirahat melepaskan penat dari kesibukan mendampingi anak-anak didik perkemahan di Tenggarong.
Hari ini umurmu genap 24 tahun, sebuah perjalanan hidup yang tidak bisa dibilang singkat. Sungguh semua waktu yang telah lewat, kelak kita akan pertanggung jawabkan di hadapan Allah. 2,5 tahun kita hidup bersama dalam mahligai cinta, dalam rentan waktu itu, abi bisa mengambil sebuah kesimpulan. Bahwa dirimu memiliki karakter yang teguh pada pendirian dan penyayang kepada keluarga. Engkau sangat perhatian kepada adik-adikmu dan abi bisa mengerti itu karena abi terlahir sebagai anak terakhir. Sikapmu yang sangat perhatian kepada Bapak. Sungguh sikap seperti demikian sudah jarang ditemukan. Dan itu yang membuat abi setiap saat dan setiap detik semakin menumbuhkan cinta abi padamu wahai bidadari surgaku.
Saat abi tak di rumah atau ada tugas ke luar kota seperti sekarang, engkau bisa menjaga dirimu dan anak kita. Saat engkau mau keluar rumah, pasti meminta izin dulu. Padahal bisa saja engkau jalan tanpa meminta izin karena pasti engkau jalannya ke rumah Bapak atau ke minimarket untuk belanja. Tapi tetap saja engkau meminta izin dulu dan itu adalah salah satu ciri istri yang berbakti kepada suami. Terima kasih bidadari surgaku.
Saat engkau jarang mengeluhkan tentang kegiatan abi yang begitu padat, seharian di sekolah, terkadang malam ada kegiatan lagi. Akhir pekan yang harusnya abi berada disampingmu dan anak kita, harus terambil dengan kegiatan melatih pramuka dan membantu Bapak di kebun. Waktu abi untukmu dan Hafizah menjadi berkurang, saat itu juga abi mengerti bahwa engkau ingin berbakti kepada suamimu untuk menanam pahala yang kelak bisa dipetik di Surga-Nya. Terima kasih bidadari surgaku.
Ketika abi lagi bermalas-malasan dalam ibadah, engkau langsung menegur abi untuk segera melaksanakan ibadah. Dan engkau tidak pernah bosan untuk mengingatkan abi. Engkau mengajariku banyak hal selama ini. Dan sekali lagi abi mengerti bahwa selama ini engkau bersabar dan ikhlas karena menginginkan pahala yang kelak kita bisa petik bersama di Surga-Nya.
Abi minta maaf karena lagi tidak disampingmu saat engkau milad. Abi juga minta maaf karrna tidak bisa memberikan kado berupa kue ulang tahun atau barang mahal seperti yang diinginkan para kaum hawa. Abi hanya bisa menulis surat cinta dari kejauhan tempat dan melantukan doa di tengah sepinya malam untuk kebaikanmu, kebaikan kita dan kebaikan anak kita. Agar kelak engkau tetap menjadi bidadariku di surga seperti sekarang menjadi bidadariku di dunia.
Semoga di umurmu yang 24 tahun ini, engkau tetap mempertahankan sifatmu selama ini dan selalu mencintai abi karena Allah. Terakhir pintaku kepada Allah, semoga kelak Abi, Ummi, Hafizah dan semua keluarga kita disatukan di dalam Surganya Allah. Aamiin...
Terima kasih bidadari surgaku, terima kasih atas segala perhatian, pengertian dan kasih sayang yang engkau curahkan kepada abi dan anak kita, Hafizah. Abi mencintai dan menyayangimu karena Allah.
Di tengah kesunyian malam kota Tenggarong, 27 oktober 2014.
Imammu.
Heril Edy.
I Love U so much.

Senin, 20 Oktober 2014

Miskin di tanah sendiri

Oleh : Heril Edy
Sepanjang perjalanan, ada 4 pengendara motor yang saya lihat mendorong motornya sendiri. Bukan karena ban bocor, mesin bermasalah atau rantai yang putus. Tapi lebih kepada hal yang "sepele". Kehabisan bensin. Bahkan saya sendiri sudah was-was kehabisan bensin. Alhamdulillah diperjalanan dapat bensin "wow".
Kehabisan bensin ini bisa dianggap hal "sepele", karena kehabisan bensinnya bukan di daerah miskin BBM, tapi karena kehabisan bensinnya di daerah yang kaya akan BBM, bahkan daerah ini (Kalimantan Timur) merupakan salah satu daerah penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia.
Menurut data yang diambil dari infotambang.com . Produksi di kalimantan Timur total per harinya bisa mencapai 134.626 barrel. Dengan perincian sebagai berikut, 60.331 barrel minyak mentah dan 74.295 barrel kondensat. Kaltim merupakan propinsi terbesar penghasil kondensat di Indonesia., dengan mahakam bloknya. Total yang dioperasikan Pulau Bunyu, Pulau Tarakan dan Balikpapan.
Dengan adanya wacana kenaikan harga BBM Premium pada awal November 2014, dari Rp. 6.500 ke Rp. 9.000, maka seketika BBM berupa premium hilang bagaikan di telan bumi di Bumi Batiwakkal. Antrian di SPBU sepanjang +-1 km, memaksa para pengendara motor kecil enggan ikut antri di SPBU dikarenakan kebanyakan yang ikut antri adalah para motor besar atau para pengusaha penjual bensin eceran.
Sangat miris memang, daerah penghasil minyak mentah ini sangat susah masyarakatnya untuk mendapatkan BBM dengan harga yang sewajarnya. Ketika BBM sudah sampai di tangan pengecer, bensin yang harusnya dibeli dengan harga Rp. 6.500 per liter di SPBU, maka harganya bisa melonjak naik hingga 100%, bahkan saya sempat membeli bensin dengan harga wow... Rp. 15.000 per botolnya. Perlu kita ketahui bersama, perbotol itu tidak sampai 1 liter.
Seharusnya ini tidak perlu terjadi. Karena kita kaya akan Sumber Daya Alam, Sumber Daya Alam yang sangat melimpah. Seharusnya semua orang bisa menikmati kekayaan alam di Negri ini. Tidak sampai membuat para warga menjerit. Tidak harus sampai mendorong motor, cukup kami bisa membeli bensin dengan harga yang wajar.
Coba kita perhatikan, adakah Indonesia mengelola Sumber Daya Alamnya sendiri???
Jawabannya TIDAK. Semua dikelola asing dan ini merupakan faktor terbesar mengapa BBM sangat sulit didapatkan dengan harga yang wajar.
Ibarat kita punya sumber mata air di halaman rumah, tapi kita tidak bisa mengambil airnya, malah tetangga kita yang buat sumurnya, mempekerjakan kita sebagai cukongnya dan bilang ke kita:"loe kalau mau ambil air, bayar ke gue ya, hehe...".
Seandainya saja pejabat negara bisa menjalankan amanat undang-undang pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Tapi itu semua hanya sebatas andai-andai. Kami sebagai masyarakat biasa hanya bisa menyampaikan aspirasi. Jika didengar, diterima dan dikabulkan, maka merupakan syukur dan nikmat yang besar bagi kami. Tapi ketika aspirasi kami hanya sekedar angin lalu, maka kami harus siap bekerja lebih keras memeras keringat hanya untuk membeli BBM dan kami akan menjadi korban lagi, lagi dan lagi.

Senin, 13 Oktober 2014

Yusuf Mansur: Andai Saya Masuk Neraka...

Suatu hari di TV, di depan jamaahnya Ustadz Yusuf Mansur (semoga Allah Ta'ala menjaganya) mengajarkan satu ayat untuk dihafalkan bersama-sama satu mesjid. Pemirsa di rumah pun ikut menghafalkannya, termasuk aku.

Tabaarakal ladzii ja'ala fiis samaa-i buruuja (Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang) waja'ala fiiha siraaja (dan Dia menjadikan juga padanya matahari) waqamaram muniiraa (dan bulan yang bercahaya). QS. Al Furqan ayat 61.

Baru satu ayat ini aja yg beliau ajarkan, langsung lengket di kepalaku. Setiap kubaca -insyaa Allah- beliau mendapatkan pahalanya. Belum lagi jutaan pemirsanya yang lain, belum lagi kepada ribuan santrinya, belum lagi dengan ribuan ayat-ayat yang lain yang beliau ajarkan. Insyaa Allah semua itu akan jadi catatan amal shalih buat beliau, aamiin.

Namun Ustadz Yusuf Mansur tetap sangat tawadhu. Beliau berkata kurang lebih begini, misalnya ternyata kelak na'udzubillah beliau masuk ke neraka, mudah-mudahan ada jamaah di sini (di masjid TPI kala itu) atau pemirsa di rumah yang udah masuk syurga kemudian melihatnya, "Lho itu kan Ustadz Yusuf Mansur." lalu atas ijin Allah orang itu memberinya syafaat dan mengajaknya ke syurga.

Aku ikut sedih kala beliau berkata itu.

Dinukil dari hadits yang panjang dari Abu Sa'id al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Setelah kaum Mukminin selamat dari Neraka, maka demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap orang daripada mereka meminta kepada Allah dengan memaksa (begitu gigih) agar dikeluarkan rekan-rekan mereka dari Neraka. Mereka berkata: 'Ya Allah, mereka dahulu pernah berpuasa, sholat dan menunaikan haji bersama kami.' Lalu dikatakan kepada mereka: 'Keluarkanlah orang yang yang kamu kenal dari Neraka itu.'" (HR Muslim)

Imam Hasan Al Basri rahimahullah menasehatkan, "Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menasehatkan kepada teman-temannya, "Jika kalian tidak menemukanku di syurga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: 'Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau." Kemudian beliau menangis.

Aku juga T_T

(Ardian Squ Candra)

KISAH ISTRI SHALIHAH, SETIA MENUNGGU SUAMI 7 TAHUN KOMA

onislam.net
Sosok wanita shalihah dan istri setia melekat pada Ummu Asmaa. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun ia setia menunggui suaminya yang koma. Dokter memvonis suaminya tak mungkin sembuh, bahkan ada syaikh merekomendasikan agar Ummu Asmaa bercerai dan menikah lagi. Tapi ia mengabaikan itu semua. Ia memilih setia. Apa yang akhirnya ia dapat? Ini kisahnya yang mengharukan…

Suamiku adalah pria yang shalih dan berakhlak mulia. Ia juga sangat berbakti pada kedua orangtuanya. Sejak menikah dengannya pada tahun 1390 Hijriyah, kami tinggal bersama orang tuanya di Riyadh. Kebahagiaanku semakin bertambah, saat Allah mengkaruniakan seorang putri kepada kami setahun kemudian. Kami memberinya nama Asmaa.

Ketika putri kami berusia satu tahun, suami pindah kerja di daerah Timur Arab Saudi. Ia bekerja di sana selama sepekan dan pulang ke rumah selama sepekan. Begitu seterusnya hingga tiga tahun lamanya.

Suatu hari, tepatnya pada 9 Ramadhan tahun 1395 H, sebuah berita mengejutkan datang kepada kami. Bak petir di siang hari membelah langit yang cerah. Mobil suamiku terbalik saat pulang menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, suamiku mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.

Hari-hari itu membuatku sangat sedih. Suami tercinta yang selama ini menjadi tumpuan hidup kami kini terbaring koma. Satu hari.. dua hari.. satu pekan.. dua pekan.. waktu terasa sangat lambat, dan kondisi suamiku tak mengalami perubahan apapun. Orangtuanya yang sudah lanjut usia tak kalah sedih. Namun yang membuatku paling sedih, ketika Asmaa menanyakan di mana ayahnya. Mengapa ia tak kunjung pulang. Kami memang menyembunyikan kabar sebenarnya dari Asmaa. “Umi, abi kok tidak pulang-pulang ya, katanya mau membelikan mainan?” tanya Asmaa dengan polosnya. Sambil berusaha menahan air mata, aku hanya bisa menjawab, “Sabar ya sayang… insya Allah nanti abi akan kembali.”

Bulan demi bulan berlalu. Tahun berganti tahun. Tak ada perubahan pada suamiku. Aku dan mertua bergantian menjenguknya.

Lima tahun sudah suamiku koma. Sebagian orang menyarankan agar aku mengajukan cerai ke pengadilan karena menurut dokter tak ada harapan sembuh untuk suamiku. Bahkan, seorang syaikh pun merekomendasikan hal itu setelah mengetahui bahwa otak suamiku lumpuh untuk selamanya.

“Tidak,” jawabku tegas setiap kali ada saran untuk bercerai. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”

Aku pun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah Asmaa. Aku mengajarinya, aku juga memasukkannya ke sekolah tahfidz. Ia mulai terbiasa shalat malam pada usia 7 tahun. Dan alhamdulillah, ia bisa hafal Qur’an sebelum menginjak usia 10 tahun. Seiring bertambahnya hafalan dan kedekatannya dengan Al Qur’an, kedewasaannya pun meningkat melampaui usianya. Aku pikir inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan hal sebenarnya tentang ayahnya. Asmaa menangis. Ia sangat sedih mendengar kabar ayahnya. Terkadang, ia juga terlihat diam menyendiri.

Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asmaa selalu membersamaiku ke sana. Ia mendoakan dan meruqyah ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.

Hingga suatu hari pada tahun 1410, Asmaa meminta ijin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah.

Malam itu, Asmaa duduk di samping ayahnya. Ia membaca surat Al Baqarah di sana. Dan begitu selesai ayat terakhirnya, rasa kantuk menyergapnya. Ia tertidur di dekat ayahnya yang masih koma. Tak berapa lama kemudian, Asmaa terbangun. Ada ketenangan dalam tidur singkatnya itu. lalu, ia pun berwudhu dan menunaikan shalat malam.

Selesai shalat beberapa raka’at, rasa kantuk kembali menyergap Asmaa. Tetapi, kantuk itu segera hilang ketika Asmaa merasa ada suara yang memanggilnya, antara tidur dan terjaga. “Bangunlah… bagaimana mungkin engkau tidur sementara waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa? Allah tidak akan menolak doa hamba di waktu ini”

Asmaa pun kemudian mengangkat tangannya dan berdoa. “Yaa Rabbi, Yaa Hayyu…Yaa ‘Adziim… Yaa Jabbaar… Yaa Kabiir… Yaa Mut’aal… Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim… ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada di bawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Sebelum Subuh, rasa kantuk datang lagi. Dan Asmaa pun tertidur.

“Siapa engkau, mengapa kau ada di sini?” suara itu membangunkan Asmaa. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara. Tak ada orang. Betapa bahagia dirinya, ternyata suara itu adalah suara ayahnya. Ia sadar dari koma panjangnya. Begitu bahagianya Asmaa, ia pun memeluk ayahnya yang masih terbaring. Sang ayah kaget.

“Takutlah kepada Allah. Engkau tidak halal bagiku” kata sang ayah.
“Aku ini putrimu ayah. Aku Asmaa” tak menghiraukan keheranan sang ayah, Asmaa segera menghubungi dokter dan mengatakan apa yang terjadi.

Para dokter yang piket pada pagi itu hanya bisa mengucapkan “masya Allah”. Mereka hampir tak percaya dengan peristiwa menakjubkan ini. Bagaimana mungkin otak yang telah mati kini kembali? Ini benar-benar kekuasaan Allah.

Sementara Abu Asmaa, ia juga heran mengapa dirinya berada di situ. Ketika Asmaa dan ibunya menceritakan bahwa ia telah koma selama tujuh tahun, ia hanya bertasbih dan memuji Allah. “Sungguh Allah Maha Baik. Dialah yang menjaga hamba-hambaNya” simpulnya.

Demikianlah, aku sangat berbahagia dengan keajaiban dari Allah ini. Aku hanya bisa bersykur kepada Allah yang telah mengokohkan kesetiaanku dan membimbingku untuk mentarbiyah putriku. [Kisahikmah.com, ditulis secara bebas dari kisah asli muslim.org]

LIMA PERHIASAN TERMAHAL DI DUNIA

Berikut ini perhiasan termahal di dunia di urutkan dari ranking terendah sbb:

5. Diamond Drop Earrings by House Of Harry Winston

Anting yang satu ini merupakan rancangan Harry Winston,. Di tangan Winston, permata 60 karat dibingkai di atas emas putih. Anting-anting ini dihargai Rp 77,1 miliar.

4. Garrard’s Heart of the Kingdom Ruby (Rp.126,96 miliar)
Garrard’s heart of the kingdom ruby merupakan kalung termahal di dunia, dengan 40,63 karat Ruby Burma berbentuk hati yang dikelilingi 155 karat permata. Ruby Burma merupakan salah satu ruby yang paling dicari karena merupakan jenis ruby berona darah merah. Dan, tak tanggung-tanggung, untuk satu kalung ini, dijual dengan seharga Rp.126,96 miliar.

3. The Wittelsbach-Graff Diamond (Rp212,2 miliar)

Permata the wittelsbach-Graff adalah permata biru 35.56 karat yang ditambang di India.

2. The Graff Pink Diamond (Rp 417,1 miliar)Pemata emerald pink 24,78 karat.

dan taukah anda perhiasan dunia paling mahal di dunia melebihi  seluruh perhiasan di dunia ?? Perhiasan yang paling baik dari seluruh emas dan berlian di dunia???
Dia adalah ...

1. Wanita Solehah

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan2 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Wanita Solehah lebih baik dari perhiasan di dunia seluruhnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kpdmu tntng sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bl dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. )

AlGhuroba'

POHON KORMA

Ada kata-kata bijak kuno yang mengatakan bahwa:
"Orang benar akan bertunas seperti pohon korma"

Pohon korma lazim dijumpai di Timur Tengah.
Dengan kondisi tanah yang kering, gersang, tandus dan kerap dihantam badai gurun yg dahsyat, hanya pohon korma yang bisa bertahan hidup.
Tak berlebihan kalau pohon korma di anggap sebagai pohon yang tahan banting.

Kekuatan pohon korma ada di akar-akarnya.
Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu.

Mengapa biji itu harus ditutup batu..?

Ternyata, batu tersebut memaksa pohon korma berjuang untuk tumbuh ke atas.
Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal.
Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan diatasnya.

"Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah."

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa..?

Sekarang kita tahu mengapa Allah kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang.
Bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya.

Allah mengijinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar makin kuat.
Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yang selama ini menekan kita.
Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

Allah mendesain kita seperti pohon korma.
Sebab itu jadilah tangguh, kuat dan tegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang-pemenang kehidupan.

***
Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah
***