Kamis, 28 Agustus 2014

8 Hadiah Terindah dan Tak Ternilai



Kehadiran
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto,sms, atau faks. Namun dengan berada di sampingnya, dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran sebagai pembawa kebahagiaan.

Mendengar
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

Diam
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.

Kebebasan
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya ? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah "Kau bebas berbuat semaumu". Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
Keindahan
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi.

Tanggapan Positif
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

Kesediaan Mengalah
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu ? Bila memikirkan hal ini, berarti siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Okelah, mungkin kesal atau marah karena telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Senyuman
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan syarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali kita menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

3 HARI SAJA



Yang pertama: Hari kemarin.

Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi
kegembiraan yang anda rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat, lepaskan saja...

Yang kedua: Hari esok.

Hingga mentari esok hari terbit,
Anda tak tahu apa yang akan terjadi.
Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba, biarkan saja...

Yang tersisa kini hanyalah Hari ini.

Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.
Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini.
Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat,
meski mereka berlaku buruk pada anda.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini,
karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri

Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung,
lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga.

KU PENUHI PANGGILANMU, YA … ALLAH… (BULETIN JUM’AT AL-BINA)


“… Hari ini telah Ku sempurnakan agamamu ini untuk kalian, dan Ku cukupkan nikmatKu kepadamu dan Ku sukai Islam sebagai agama mu” ( QS. Al-Maidah : 3)
Hari itu, Bumi Muliapun Bersaksi karena doanya :
Kota ini adalah kota haram-Mu, kota aman yang teramat ku rindu, maka dengan lindungan-Mu, hindarkan kulit, daging, bulu, dan seluruh bagian tubuhku dari ganasnya bara neraka-Mu. (Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah).
Kota yang bersinar cemerlang semenjak Al-Musthafa dating, Madinah saat itu tak lagi lengang. Sebuah undangan mulia untuk berhaji bersama dengan manusia pilihan bergaung merdu. Beribu-ribu orang menyemut di sebuah kota, yang telah menjadi muasal kekhalifahan Islam. Kumandang ajakan dari bibir semanis madu Rasulullah untuk  melakukan perjalanan haji, disambut bahagia semua manusia. Semua datang dengan senyum terkembang. Mereka datang dari kota dan pedalaman yang amat jauh ditempuh. Mereka berperjalanan dari berbagai pelosok tanah  Arab, dari gunung-gunung, dari lembah sahara, dari setiap jengkal tempat yang dilimpahi dakwah Nabi mulia.
Banyak kemah-kemah didirikan di sekitar kota Madinah. Mereka membangunnya dengan cinta,  dengan kasih saying yang berdenyar lapang. Mereka saling tersenyum kepada wajah-wajah yang baru pertama dijumpa. Mereka saling bertemu, berjabat tangan dan berdekapan meski sama-sama asing. Semua datang untuk saling mengenal, merekatkan kasih saying dan menebarkan keselamatan. Sungguh tak lagi nampak permusuhan antar kabilah. Madinah cerah. Langit bersuka cita menatap ukhuwah yang dipersembahkan muslim di sana.
Saat matahari tergelincir, pada 25 Zulqaidah tahun ke sepuluh hijriah, sang Purnama Madinah berangkat menuju Baitullah diikuti beribu jamaah. Semua berbekal dengan sebaik-baik bekal, yaitu taqwa. Berederap mereka beriringan, berbaris rapi seperti gigi sisir yang indah. Rasulullah berada paling depan dengan tunggangan unta betina. Awan berarak, udara bergerak, dan pepasir berderak menyaksikan sebuah duyunan iman dan keikhlasan yang bergelimang di setiap dada.
Adalah ia, seorang pangeran berair muka rupawan nampak  tersenyum melihat ummat yang kini berada  bersamanya. Ia mengenang saat-saat pertama menelusupkan dakwah di Bumi Makkah. Telah belasan tahun, ia berjuang dengan sepenuh cinta di dada, bergumul, tersungkur, terusir dan berperang demi menegakkan kalimat Tauhid, mengarahkan manusia kepada jalan indah Allah. Dan tidak terbilang harinya ditumpahkan untuk sebuah peruntuhan berhal latta dan uzza, mengikis setiap peluh kebobrokan dari setiap dada-dada manusia dan mengisinya dengan banyak hikmah, iman dan Islam. Dan kini, tak lagi ia seorang diri.
Setelah sampai dan bermalam di Dhul-Hulaifa, keesokan harinya, Nabi keluar dari kemahnya dan mengenakan pakaian ihram putih tanpa jahitan. Para sahabat yang melihatnya langsung bersegra memberitahu setiap gendang telinga untuk berganti pakaian menjadi serupa denga yang saat itu digunakan Nabi. Dan alangkah menakjubkan memandangi lautan putih dengan banyak kemilau suka cita. Degup jantung mereka satu warna, kegembiraan.
Saat itu, dengan sepenuh kalbu, Kekasih Allah, Muhammad SAW, menghadapka wajah ke arah langit seraya bertalbiyah. Sepoi angina membumbungkan suara beningnya ke angkasa :
Ku penuhi panggilan Mu, Ya Allah
Ku penuhi panggilan Mu.
Ku penuhi panggilan Mu, Ya Allah
Tiada bersekutu duhai Allah,
Segala puji, nikmat dan syukur adalah kepunyaan-Mu.
Bukan hanya lidah semua sahabat yang lantang ikut berseru. Lembah Sahara bahkan seluru tingkatan langit juga bersahutan, mengulang kalimat talbiyah yang disenandungkan sang Penerang.
Pada hari ke delapan Zulhijjah, Nabi pergi ke Mina. Di sana ia melaksanakan kewajiban shalat dan tinggal dalam kemahnya hingga fajar menyingsing pada hari haji. Setelah shalat subuh, ketika surya baru saja tersembul, dengan untanya, ia menuju kea rah gunung Arafah. Arus manusia mengikutinya dari belakang. Mereka bertalbiyah dan berseru kepada Allah yang Maha Akbar. Gemanya membahana, menyapa semesta di alam raya.
Pada hari itu bumi Arafah bersaksi tentang untaian pesan yang digaungkan Al-Musthafa. Pesan yang sangat agung dan dalam maknanya. Ia berpesan bahwa sesame muslim adalah bersaudara. Jika bersaudara,  maka sudah dapat dipastikan saat saudaranya khilaf, ia mengingatkan dengan baik. Ketika saudaranya kekurangan, dengan penuh sayang ia sigap membantu. Bersaudara seperti satu tubuh, tatkala saudaranya ditimpa kepedihan, kesakitan dan kesempitan, tak akan menunda waktu, tak akan berlama-lama, ia pasti berlari merengkuh sudaranya dengan segenap cinta, dengan huluran tangan keikhlasan, dengan bantuan tanpa tanding. Ia merasakan nyerinya. Ia merasakan sesak dada saudaranya. Ia tengadah meminta penciptanya, memohonkan Allah agar saudaranya dikuatkan.
Saat ini saudara-saudara kita di Negeri Palestina, bersimbah darah, perih dan  lara yang tak terkira. Mereka kehilangan teramat banyak. Yang tersisa di sana hanya air mata, anak-anak yatim piatu yang butuh perlindungan. Ketika wukuf di Arafah tengah dilangsungkan, mari mengenang pesan Nabi, bahwa sesame muslim adalah bersaudara. Mari buktikan bahwa kita adalah saudara mereka. Saudara yang mencintai mereka. Hantarka selaksa cinta kita, uang, pakaian, makanan, atau bahkan lantunan doa. Saya yakin ada yang akan tumbuh subur dengan segera. Ukhuwah itu. Ukhuwah Islamiyah.
Jika pada hari itu, bumi Arafah bersaksi tentang sebuah pesan yang digaungkan kekasih Allah, pada hari ini mudah-mudahan langit menyaksikan bahwa ada yang sedang berlomba-lomba mengamalkan pesannya. Pesan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Dan Rasulullah pasti berbangga.
Wallahu’alam bish showwab.

Rabu, 27 Agustus 2014

UNTUKMU MUJAHID ALLAH

Langit Palestina yang mendung
Deru suara bom di mana-mana
Jerit tangis kehilangan terdengar memenuhi langit Palestina
Darah bersimbah
Anak-anak yang tak berdosa yang tak mengerti akan kekejaman yang menimpa mereka
Wanita dan orang tua tak berdaya yang tak mampu mengelak hujaman meriam kaum yahudi
Telah banyak mujahid yang GUGUR demi membela kehormatan ISLAM, kehormatan Palestina dan kehormatan umat MUSLIM di dunia
Majulah mujahid Allah
Palestina milik muslim sedunia
Yakinlah Allah akan menganugrahkan kemenangan atas kalian
"Sungguh yahudi bagai seekor kera yang bermimpi menggapai langit"
Ditulis pada tanggal 7 Mei 2009.

Selasa, 26 Agustus 2014

Kemenangan Palestina, Kemenangan Ummat Islam

Gemuruh takbir di atas langit Palestina,  Allahu Akbar... Takbir tiada henti mengiringi pernyataan gencata senjata dari pihak Yahudi dan sekutunya Amerika Serikat. Di saat pejuang Hamas menyatakan tidak akan ada gencatan senjata sebelum seluruh permintaan Warga Palestina dipenuhi. Dan ternyata para Pejuang Hamas penuhi janjinya ke warga Palestina, mereka tidak pernah menyerah, tidak pernah mengibarkan bendera putih tanda takut dan ingin kembali diinjak-injak yahudi. Bahkan, yahudi yang selalu sombong dengan persenjataan dan kekuatan militernya mengatakan akan siap bertempur selama mungkin. Tapi yahudi, sekali lagi menunjukkan sifat pengecutnya. Menyerah dan menyatakan gencatan senjata sampai waktu yang tidak  ditentukan dan akhirnya secara terpaksa menyetujui semua syarat dari warga Palestina.
Memang tidak sia-sia perjuangan Hamas mempertahankan Tanah Suci Ummat Islam, Tanah Palestina, Tanah Para Nabi. Berpuluh tahun lamanya mengalami penjajahan dan penistaan di tanah sendiri. Tidak ada sia-sia dari seluruh bantuan Warga Dunia. Bantuan materi, moril dan terutama dukungan doa. Akhirnya warga Palestina dan Pejuang Hamas bisa meraih kemenangan. Kemenangan Palestina, Kemenangan Ummat Islam. Allahu Akbar...

Harapan dan Doa

Sahabatku yang selalu dirahmati Allah.
Aku tahu, aku tidak bisa memberimu sesuatu yang istimewa di hari spesialmu yang bisa membuatmu selalu ingat padaku kecuali sebuah doa yang tulus. Aku juga tidak bisa bertutur kata menasehatimu, karena aku tidak cukup mampu untuk melakukan itu.

Sahabatku yang dikasihi Allah
Engkau yang selalu memberiku semangat di saat aku lagi down dan menjauh dari Allah
Engkau yang mengajarkanku tentang arti kehidupan yang sebenarnya
Engkau yang selalu mengingatkanku untuk tidak pernah putus asa dan selalu menghargai waktu

Sahabatku yang baik hati dan tidak sombong
Harapanku...
Jadilah mujahid yang tidak takut siapapun kecuali Allah
Jadilah mujahid yang selalu mempunyai semangat memperjuangkan agama Allah
Jadilah mujahid yang bisa dibanggakan orang tua, keluarga, negara dan agama
Jadilah mujahid yang bisa menerangi seluruh yang ada di sekitarmu
dengan ilmu yang kamu miliki

Sahabatku yang selalu aku banggakan
Doaku...
Semoga Allah selalu menjagamu di manapun kamu berada
Semoga Allah selalu menguatkan hatimu untuk tetap istiqomah di jalan-Nya yang lurus, meski halangan dan godaan selalu menanti di depan mata

La Tahzan, Inna Llaha Ma'ana...
Raihlah masa depanmu yang cerah dengan semangat
Keep spirit, be a true moslem
Tenggerang matterui fasenna to matoa malebbita'...

Batiwakkal, 27 Agustus 2014

Ketika Anak disakiti Temannya “BERANTEM ITU BAIK”



By : Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhori
Tetapi meski berantem itu baik, bukan berarti saat anak sudah saling menyakiti kita diam dan membiarkan anak saling menyakiti. Saat anak berantem orangtua harus pandai-pandai mengambil langkah tepat agar mereka bisa mengambil kebaikan dari peristiwa ini. Adakalanya kita diam dan tak boleh ikut campur. Adakalanya kita boleh dan bahkan harus intervensi saat anak kita sudah melakukan serangan fisik atau ada kekuatan tidak seimbang dan karena itu salah satu disakiti oleh yang lain dan bukan malah mendiamkannya. Perhatikan aduan seorang ibu yang tinggal di Bahrain, berikut ini pada saya.
“Abah, jika kita melihat anak kita disakiti oleh temannya di depan mata untuk pertama kalinya, apa yang harus kita lakukan? (anak saya laki2 2,5 tahun) apakah saya langsung menasihati anak lain itu, mencover anak kita sesegera mungkin, atau memotivasi anak sendiri untuk fight  atau bagaimana?
Kapan waktu terbaik menasihati anak bila terjadi peristiwa ini? Di depan teman tersebut atau nanti waktu pulang? Saya mengalami ini, anak saya dipukul, sementara ibu sang anak berdiri disamping saya dan cuek-cek saja melihat anaknya menyakiti anak saya.”
Panduannya sudah jelas apa yang dikatakan Rasulullah dalam haditsya yang shahih “man roa minkum munkaron fal yughayyir biyadih, fainlam yashtati fabilissaani, fainlam yashtati fabiqolbihi, wa dzaalika adh’aful iiman”. Kata Rasulullah saw, jika melihat kemunkaran, cegahlah dengan tanganmu (kewenangan atau kekuasaan kita), jika tidak bisa cegahlah dengan lisanmu dan jika tidak dengan hatimu, tapi itu selemah-lemahnya iman. 
Ketika anak kita disakiti temannya di depan anak kita, orangtua bukan hanya jangan tapi memang tidak boleh diam. Karena itu tindakan kedzaliman. Perkara orangtua anak yang menyakiti diam saja bukan berarti kita harus juga mendiamkannya.
Lalu bisa saja orang berdalih “urusan anak orangtua jangan ikut campur” ya sepanjang anak tidak melakukan tindakan fisik dan menyakiti, orangtua memang tidak usah ikut campur, tapi jika nyata-nyata sudah melakukan tindakan yang menyakiti anak lain di depan mata kita, orangtua wajib ikut campur. Lebay-nya, masa sih kita mendiamkan anak-anak lain, meski bukan anak kita (apatah lagi anak kita), jika misalnya saling bunuh-bunuhan dengan alasan “urusan anak orangtua jangan ikut campur”.  Jadi dalih bawha urusan anak orangtua jangan ikut campur harus disesuaikan konteks masalah dan kejadiannya. 
Bisa jadi bahwa orangtua anak teman ibu diam saja karena dia pun sendiri sebenarnya malu dengan apa yang dilakukan anaknya atau kemungkinan lain dia sendiri menganggap wajar apa yang dilakukan anaknya dengan dalih di atas tadi “ah itu urusan anak” apalagi posisi anaknya sendiri bukanlah yang disakiti. Tapi menurut bunda, apakah orangtua ini akan diam saja saat anaknya yang dalam posisi disakiti? 
Sekali lagi jika kejadiannya begitu, orangtua harus mencegahnya atau melakukan tindakan bukan mendiamkan. Kita memang memiliki kewenangan untuk itu. Karena kita dalam posisi orangtua dari anak yang disakiti.
Tindakan apa yang dapat dilakukan? Tentu bukan balik memukul anak yang sudah memukul anak kita atau memprovokasi anak kita untuk memukul balik atau apalagi dengan menyerang secara verbal dari orangtua anak yang menyakiti tadi karena mendiamkan. Tindakan-tindakan seperti ini ahanya akan memperumit masalah. Yang dapat kita lakukan adalah DENGAN TENANG, pegang tangan anak yang memukul tadi dan katakan dengan lembut tapi tegas, misalnya nama teman anak kita azis, kita katakan “Azis, tidak boleh nak, temannya bisa sakit dipukul. Itu menyakiti ya. Azis juga kalau dipukul sakit kan?’ 
Mungkin Azis akan memberontak atau meronta-ronta. Lalu kita bisa bekerjasama dengan orangtua anak tadi dengan mengatakan “Bu, maafkan saya kalau saya telah buat anak ibu tidak nyaman, ini untuk kebaikan anak kita bersama, boleh pegang anaknya bu?” 
Ada tiga pilihan yang dapat kita latih pada anak kita saat dia mendapatkan bullying atau intimidasi dari temannya. BICARAKAN, LAWAN ATAU LAPORKAN! 
Pertama, latih anak kita untuk menyatakan ketidaksukaan, ketidaksetujuan dan penolakan melalui ucapan. Jika teman kamu hendak menyakiti kamu ajak teman kamu bicara bahwa itu bisa membuat kamu sakit. Seperti “nggak boleh begitu, itu membuat aku sakit” atau “berhenti, itu sakit!” 
Anak-anak terus menyakiti salah satu sebabnya karena yang disakiti terus diam dan tidak mengungkapkan apa yang dirasakannya. Saat mainan hendak diambil paksa temannya, latih anak kita untuk mengatakan “tidak boleh itu punyaku, kalau kamu mau pinjam kamu harus minta izin dulu”.
Pilihan kedua, jika anak lain masih menyakiti anak tersebut dan tidak berhenti atau mengulang lagi perbuatannya latih anak kita untuk LAWAN! Bukan mengalah atau menghindar.
Kata siapa mengalah itu selalu baik? Saat anak kita didzalimi, maka latih anak kita sebaik-baiknya dengan melawan. Ini berlaku juga meski sesama saudara. Jika adik atau kakak kamu menyakiti kamu lawan!  Bukan malah mengatakan “Kakak, ngalah dong sama adik!” atau dengan perkataan “Kakak, kalau adik mukul, kakak lari ya, jangan balas!” 
Seorang ibu di Kutacane, Aceh Tenggara, bercerita pada saya bahwa selama ini dia selalu mengatakan pada anaknya yang pertama, 7 tahun untuk mengalah pada si adik yang 4 tahun dengan alasan adiknya masih kecil, masih lemah. Sehingga akhirnya si Kakak ini meski adiknya mukul sekalipun jika di depan orangtuanya akan diam saja. Celakanya, kata si ibu tadi, ternyata akibat sering diam atau tidak boleh melawan, ketika kami tidak ada, ditinggal sebentar saja mereka ditinggal berdua, si kakaknya justru melampiaskan kekesalan pada adiknya secara berlebihan dengan memukuli adiknya sepuasnya.
Pilihan ketiga adalah LAPORKAN. Adakalah kita sendiri dalam kehidupan nyata tidak memiliki daya atau dalam konteks masalah di atas, tenaga anak kita tidak memungkinkan untuk melawan karena teman yang tadi lebih besar atau lebih banyak. Atau daripada jadi tambah panjang masalahnya, maka latih anak kita untuk melakukan pilihan ketiga LAPORKAN!
Ketika anak kita diintimidasi anak-anak kita boleh dilatih untuk MELAPORKAN kepada pihak-pihak yang berwenang. Saat di sekolah, laporan kepada guru, saat di lingkungan umum kepada polisi, security atau orang dewasa lain yang kebetulan hadir di situ. Saat di lingkungan tetangga boleh melaporkan pada orangtua anak yang menyakiti tadi atau kepada orangtuanya sendiri.