Sabtu, 13 September 2014

KISAH QURBAN BU SUMI YANG MENGGETARKAN HATI

Semakin dekat dengan idul adha, semakin banyak
orang yang mengunjungi stan daganganku.
Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi
menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang
akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini,
membantu orang mendapatkan hewan qurban dan
Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan
penjualan.
Hingga datanglah seorang ibu yang kemudian
menggetarkan imanku dan membuatku tak bisa
menahan air mata.
Semula, aku berpikiran ibu ini hanya akan melihat-
lihat saja. Karena dari penampilannya, aku menduga
ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban.
Meski demikian, sebagai pedagang yang baik aku
harus tetap melayaninya.
“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku
seramah mungkin
“Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?”
tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang
paling murah.
“Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun
ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Kalau
harga kambing qurban tahun ini, paling murah
sekitar 1,5 juta. Yang agak besar 2,5 juta.
“Harga pasnya berapa?”
Meskipun aku belum yakin ibu tersebut akan
membelinya, minimal ia telah menunjukkan minatnya
terhadap kambingku. “Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu
untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu
mau”
“Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata
ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai
berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban.
Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana
tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia
mampu berqurban.
“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung,
semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama
berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama
dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak
tega menolaknya.
Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke
rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku
terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah
gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di
dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi,
meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak
ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini
terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek
itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing
tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak
kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.
“Emak, lihat apa yang Sumi bawa” kata ibu yang
ternyata bernama Sumi itu. Yang dipanggil Emak
kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa
kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban”
Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan
tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga
Emak berqurban. Terima kasih ya Allah…”
“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya
terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di
kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang
untuk membeli kambing buat qurban atas nama
Emak….” kata Bu Sumi.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil
menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati,
“Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu
berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih
mulia ini, seorang yang miskin harta namun
kekayaan imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.
“Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang
bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan,
sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah
karena karena tak sanggup mendapat teguran dari
Allah yang sudah mempertemukan dengan
hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan
penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu
kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang
dibutuhkan adalah kesungguhan. Kita jauh lebih
kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk,
lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot
hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan. Bahkan,
HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban.
Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita
mempersiapkan qurban? Masih ada waktu sekitar
satu bulan. [Keluargacinta.com]
*Diadopsi dari kisah yang ditulis Budi Ch Susanto
dan Bluejundi

Jumat, 12 September 2014

DR. 'Aid al Qarny menggambarkan tentang istrinya

Beberapa malam yang lalu, sesaat sebelum aku tidur, aku berada di atas ranjang, aku menoleh ke arah istriku dan aku pandangi bentuk wajahnya sementara ia lagi tidur, aku bergumam dalam hatiku: Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua dan keluarganya, ia datang untuk tidur di samping laki-laki yang asing baginya. Dia tinggalkan rumah orang tuanya. Dia tinggalkan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya. Sekarang ia datang kepada laki-laki yang menyuruhnya untuk melakukan yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dia melayani laki-laki itu sesuai dengan yang diridhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah......

Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku?! Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya.

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani.

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?!

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi.

Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah?!

Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya..."

Kamis, 11 September 2014

Ruqyah Kesurupan Massal di Bumi Perkemahan Mayang Mangurai

By Ahyar Al Banjary
Tadi malam saya ditelpon oleh seorang penghafal Qur'an, yakni Ustaz Sofyan salah satu guru ngaji saya. Beliau mengabarkan bahwa ada ksurupan massal di acara perkemahan dalam rangka peringatan HUT Pramuka ke-53, di Bumi Perkemahan Mayang Mangurai. Karena masih ada pekerjaan di kantor, saya meminta anggota Komunitas Pecinta Ruqyah Berau binaan saya untuk datang ke sana. Tak lama Pembina Pramuka SMA 4 Berau, Kak Zul Bahraen yg pernah ikut pelatihan ruqyah yang saya adakan, juga mengabarkan bahwa ada ksurupan massal. Saya pun meminta agar beliau ke TKP lebih dulu. Alhamdulillah pekerjaan selesai. Tak pduli bensin sekarat, kantong kering, dan cuaca mulai hujan, saya pun meluncur ke TKP. Alhamdulillah ada jaket Quranic Healing Community (QHC) yang melindungi tubuh dari dinginnya malam dan terpaan hujan. Yang tak kalah bersyukur adanya semangat QHC yg tertanam di jiwa saya, sehingga tak merasa gentar dan ragu, meski nyawa yang harus dipertaruhkan. Sesampai dibumi perkemamahan yg diikuti sekitar 600 anggota Pramuka itu, saya diarahkan oleh panitia ke Pendopo tempat di mana anak-anak kesurupan. saya pun langsung meruqyah salah satu siswi yg kesurupan dan ingin pergi entah ke mana. Tak lama ada akh Andriyan Scout (Nama di FB) membisiki, "ga bisa kita meruqyah kak, di sini ada Al Hikmah". "Kenapa tidak bisa, mana Al Hikmahnya biar kita ruqyah sekalian?" Tiba-tiba ada seseorang yg mengeluarkan jurus tenaga dalam di depan saya. Saya pun menjungkalnya sambil membaca doa perlindungan, kemudian mmperingatinya. "Hentikan, jangan pakai tenaga dalam" "Ini bukan tenaga dalam", katanya. "Bukan apanya, saya sudah sering menghadapi orang seperti anda, jangan macam-macam", kemudian saya tunjuk lagi ia dengan membaca doa perlindungan. Alhamdulillah akhirnya dia pergi juga. Ruqyah pun saya lanjutkan. Setidaknya 3 anggota Pramuka yg saya ruqyah. 2 diantaranya ternyata adalah anak indigo. Sementara yang lainnya ditangani oleh Akh Andriyan Scout, akh Imran, dan Akh Zul Bahraen. Alhamdulillah Allah mudahkan dan semuanya pun sadar. Setelah itu saya mengajarkan anggota Pramuka tersebut ruqyah mandiri dengan tekhnik usapan. Karena hujan semakin deras, saya memutuskan menginap di Bumi Perkemahan. Saya sangat menyarankan seorang pembina Pramuka itu bisa meruqyah agar bisa mengatasi masalah seperti ini. Setidaknya agar mereka tidak menuruti permintaan jin jahat yg kerap meminta ini itu, yang berpotensi merusak aqidah ummat Muslim. Saya juga menegaskan agar setiap pembina Pramuka itu membiasakan anak didik nya mengutamakan sholat ketimbang kegiatan, sebagai bentuk pengamalan Dasa Darma yang pertama dan utama "Takwa kepada Tuhan yg Maha Esa". Karema percuma dasa darma yang lainnya biar diamalkan, tapi mengabaikan darma pertama. Karena Dasa Darma selanjutnya, ke 2-10 adalah perintah Tuhan. Boleh ditinggalkan jika bertentangan dengan yg pertama. Pembina Pramuka juga tidak boleh jelalatan. Kalau ada pembina Pramuka jelalatan rasanya ingin saya terkaman. Qhi qhi.. Kisah ruqyah di bumi perkemahan ini ternyata tak hanya malam. Esoknya saya kembali harus menangani beberapa anggota Pramuka yang kembali kesurupan, ditambah anak indigo yg kumat. Dan yang membuat saya jengkel ternyata upacara HUT Pramuka diisi dengan kegiatan kuda lumping dan reok. Tak ayal, saya juga harus menangani mereka yang kesurupan jin kuda lumping. Pada ruqyah tadi saya hanya menanganinya sendiri, ditengah-tengah musik yang terus mengalun dan sejumlah praktisi tenaga dalam yang mencoba ikut campur, juga ada pembina Pramuka tapi juga menjadi orang sok pintar. Lengkap sudah tantangannya.

Rabu, 10 September 2014

Finding Husband

Telah dituliskan: Desember 31, 2012

Hari ini adalah 9 hari pernikahan gue… hahaha bayangin aja gue yang urakan kayak gini ternyata dapet suami yang macho (bukan mantan cowok ataupun mantan copet). Subhanallah bangetz… Solehnya dan pengertiannya, gak da yang nandingin deh.

Berhubung status gue yang masih mahasiswa tingkat akhir di kota hujan, so….mesti relain dah berpisah sama akang untuk satu minggu. Ya selain  gue lagi nyelesein tugas akhir, akang yang seorang jurnalis juga mesti ngejar berita tentang kunjungan Presiden negaraku tercinta Indonesia ke negaranya David Bekam… eh Becham ding! Kita berdua mesti sabar, baruuuu aja nikah dua hari udah kepisah jarak dan waktuuuuu …. yaelah lebai.

Tapi well, akhirnya hari itupun berakhir. Hari ini yayangku pulang dari London. Dan yang paling so sweeeeet… Akang pengertian banget. Tahu gue lagi riweuh dia gak mau gue jemput di Bandara, doi bilang “jemput aja akang di stasiun bogor”. Akang ni sebenernya bukan orang sunda, doi orang Sulawesi, orang Bugis tepatnya. Gue yang orang sunda dengan spontan saat hari pertama kita nikah, dia gue panggil akang. Mulanya dia ketawa karena belum ada yang pernah panggil dia gitu. Tapi apapun akan akang lakukan demi kebahagian gue, istri tercintanya hehehe…

Kita sebelumnya gak pernah kenal dan baru ketemu 5 kali, pertama saat MR gue dan MR nya mempertemukan kami di sebuah mesjid di Kota Bogor, kedua saat dia datang melamar ke rumah, ketiga saat akad nikah, keempat dan kelima yaitu dua hari setelah pernikahan. Hahahaha kocak. Dia usianya emang lebih tua dari gue sih, mmmm…. kalo gak salah 10 tahun. So, gak kaget deh dia suka perhatian.

Tapi lemotnya gue, gue istri yang kagak guna. Selama doi pergi dan gue sibuk sama tugas akhir, gue lupa nyimpen fotonya dia, semua foto pernikahan pun ketinggalan di kampung. Helloooo ni zaman udah modern kaleee, iye tapi gue ubek-ubek Fb dan twitternya doi, tetep aja gue gak nemuin fotonya. Maklum orangnya juga gak narsis, so yang banyak di FB nya hanyalah foto-foto liputannya.

Dengan berbekal memiliki no Hp nya, gue yakin pasti bisa ngenalin wajah teduh suami gue. Bismillah…

Hari ini gue beda dari biasanya, hahaha temen-temen kemaren ngajarin gue dandan, so hari ini gue dandan abis-abisan tapi gak menor juga. Ya…. melaksanakan sunnah Rasul lah kawan. Di angkot, gue udah senyam-senyum serta dag-dig-dug serrr mau ketemu yayang. Tiba-tiba ada sms mampir ke HP….Taraaaa!!! Gue buka inbox ternyata dari akang.

“Yang, aku masih dikereta nih, baru di stasiun  Cilebut. Maaf ya kalau kamu udah di stasiun ^^”

Waduh gimana nih, gue lagi kejebak macet sekarang, masih dalam angkot kadal (kampus dalam) pula. Harus cepet-cepet bales sms dan minta maaf nih. And Whaaaaaaaaaaaaaat… Hp gue mati,,,, Ya Karim gue lupa nge-charger Hp semalam. Mampus dah gue…

Satu jam kemudian gue tiba di stasiun, ngos-ngosan karena lari-lari mencari akang, tapi gue bener-bener lupa sama wajah suami gue, terus Hp gue juga mati. Ya Allah…berharap suami gue nyapa duluan gitu atau ngeliat duluan….

Ya Allah gimana nih, gue tengok kanan tengok kiri di stasiun tidak ada tanda-tanda kehidupan akang, hehehe …

Sekitar tiga puluh menit gue di stasiun, dan sampai saat itu pun gue gak nemuin suami gue. Ya iyalah orang lupa. Gue duduk lunglai di kursi stasiun, dan mulai putus asa. Malu rasanya dengan kebegoan gue yang lemot nginget wajah orang, suami sendiri lagi. Kan kalau gue bilang ke orang atau polisi, gue pasti bakal diketawain, masa gitu penganten baru lupa muka pasangannya.

Tepat disamping gue ada seorang cowok yang lagi tidur sambil memegang dua buah teh kotak yang bikin gue ngiler. Hehehe karena gue suka banget minum teh kotak. Ni orang tidur anteng banget, pake headset trus tidur di tengah-tengah keramaian kayak gini. Gue jadi inget diri gue sendiri yang mudah ngantuk juga di tempat mana pun. Sejenak gue liatin… nih orang jangan-jangan si akang, tapi tetep aja ngebleng di otak, gue kucek-kucek mata, tetep aja gak kebayang wajah akang.

Tiba-tiba aja orang samping gue terbangun, dia kaget melihat gue dan tersenyum manis getooo. Gue yang malu karena kepergok lagi ngepoin orang langsung minta maaf.

“maaf, maaf… maaf ya, maaf saya gak sopan. Saya lagi cari orang soalnya, saya kira mas orang yang saya cari….” gue minta maaf dengan membrondong kata maaf sama tuh cowok.

Tuh cowok malah mengernyitkan dahinya, dan langsung tersenyum ramah.

“Iya mbak gapapa. Emang mbak lagi nyari siapa?” Tanyanya, yeee ni orang malah yang ngepoin gue.

“su…eh…. orang yang baru pulang dari London” aduh hampir aja keceplosan, bisa diketawain gue kalau gue lagi nyari suami gue sendiri di stasiun.

“saudara mbak?” dia balik nanya.

“Hehehe, aduh mas susah saya ungkapkan dengan kata-kata” ngelesssss yang pinter biar gak keliatan bloon.

“Oh…”

“Eh nih saya punya teh kotak, mbak mau?” tiba-tiba banget nih orang nawarin teh kotak yang gue sukai, tapi gue inget pesan nyokap katanya kalau di tempat umum jangan gampang nerima makanan atau minuman dari orang yang gak kita kenal, tahu-tahu itu udah dikasih obat bius atau semacamnya, trus gue ntar pingsan dan gue dirampok ma orang itu, atau gue diculik….haaaaah My God jangan dong gue kan belum ketemu akang, masa ntar tragis banget di koran “Seorang Istri Jurnalis, mati mengenaskan di Stasiun” waaaaah gak banget… imajinasi gue yang terlalu ngalir kadang juga lebai. Sebisa mungkin gue tolak dengan halus tanpa menyinggung masnya.

“mmmm makasih mas, saya lagi gak haus. Silahkan buat mas saja” tak lupa tersenyum manis agar masnya gak tersungging eh tersinggung.

“mbak gak coba menghubungi orang yang mbak cari, siapa tahu saja ternyata orang yang mbak cari sudah pulang”

OMG. Iya juga ya, karena akang kelamaan nunggu, akang pulang duluan gitu ke rumah, mungkin aja kan, lagian gue kan gak bisa dihubungi karena Hp lagi mati.

“mbak… mbak….” cowok itu mengibaskan tangannya ke depan muka gue yang lagi bengong.

“Eh iya mas…”

“mbak, sudah coba hubungi belum orang yang mbak cari?” tanyanya lagi padaku

“mmmm…Hp saya mati jadi gak bisa hubungi dia”

Cowok itu membuka ransel, mengambil Hp dan menyodorkannya pada gue. “Nih mbak, saya pinjamkan Hp saya. Mbak hafal nomor Hp orang yang mbak cari gak?

Nomor HP…. Ahaaa!!! Aku ingat nomor Hp akang, maklum karena kurang kerjaan kalau ngelamun, ya ngafalin nomor Hpnya.

“Oh iya, saya hafal nomor Hpnya”

“berapa mbak nomor Hpnya biar saya ketikin”

Ya ampun nih cowok, mau ketikin segala, dipikirnya gue kagak bisa apa ngetik sendiri…

“0812xxxxxxxx”

Dia memberikan Hpnya…

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk” yaaaa sibuk… tambah lemes deh

“Nih mas, terima kasih. Orangnya gak bisa saya hubungi”

Saat melihat Hp ni cowok gue jadi inget sesuatu….

“Oh iya, Hp mas setipe sama Hp saya deh. Mas bawa chargeran Hp gak?” Ngarep banget gue…

“Bawa mbak. Boleh, silahkan mbak pinjam.” Dia kembali mengambil barang dari ranselnya dan memberikan chargeran Hpnya.

Tanpa pikir panjang gue langsung tengok kiri-kanan mencari sumber listrik.

“Mas, saya pinjam bentar ya chargerannya. Mas masih lamakan disini?”

Cowok itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya, tanda iya.

Gue langsung lari mencari sumber listrik di stasiun ini, daaaaaaan akhirnya gue dapet colokan sumber listrik di sebuah warung penjual donat alias “Dunkin Donuts”.

Ckckckck, seumur hidup baru ke dunkin donuts Cuma buat nyarjer Hp. Tanpa pikir panjang gue langsung colokin tuh chargeran ke colokan, setelah satu menit gue hidupin Hp.

Waaaaaa…. banyak banget SMS yang membrendel Hp gue dari dua nomor. Nomor akang dan nomor operator yang mengabarkan bahwa gue barusan dihubungi oleh nomor akang. Huhuhu akang maafin istrimu yang dodol ini, pasti akang sekarang juga lagi bingung nyariin….

Segera gue telpon suami gue tercinta.

“Tuuuuuuut…. Asalamualaikum” suara ngebass suami gue terdengar. Haduh gue makin merasa bersalah.

“Walaikumsalam, akaaang……” gue gak bisa meneruskan kata-kata gue karena malu.

“Halo… Ria sayang, kamu dimana dek?”

“akang aku…. aku…. akang dimana??? Maafin aku kang ….” nangis bombai gue karena merasa berdosa membuat suami gue menunggu.

“Dek, kamu kenapa nangis? Akang masih di satsiun nih, nungguin adek”

Haaaaaaah….. OMG ternyata akang masih ada di stasiun. Gue langsung nyari sesosok cowok yang lagi nelpon diluar Dunkin Donuts… aduuuuuh terlalu banyak orang di stasiun.

“akaaaaang… akang maafin aku, akang dimana? Aku segera jemput akang nih”

“Tut tut tut tut” bunyi Hp dimatikan. Huaaaaaa jangan-jangan akang marah, jadi matiin Hpnya. Gue lemes tak berdaya, dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Tiba-tiba sebuah teh kotak disodorkan ke samping gue.

Gue kesel amat nih sama pelayan dunkin donuts, gak tahu apa orang lagi sedih.

“Maaf mbak saya gak pesen teh kotak” jawab gue ketus.

Kok pelayannya diem. Gue menoleh kepada orang yang memberikan gue teh kotak, eh ternyata bukan pelayan tapi cowok yang gue pinjem chargerannya. Mungkin dia mau ambil chargerannya kali ya.

“Eh mas maaf, ini chargerannya mau diambil ya” gue langsung mencabut chargeran dari colokan sumber listrik dan menggulungnya.

“Akang ada di depan kamu sayang….”

Whaaaaaat !!!! ni orang berani banget…. eh tapi tunggu maksudnya apa, gue mengernyitkan dahi bingung dengan apa yang dikatakan cowok pemilik chargeran.

“Maksud lo?” dengan spontan gue nanya. Dia mengernyitkan dahinya.

“Maria Ulfa, ini akang. Pria yang nikahin Ria sembilan hari yang lalu” jawabannya mantap sambil tersenyum.

Gue melongo dan salting, sumpah gue masih gak percaya, apa iya cowok depan gue akang. Parah bangeeeeeeeeeeet.

“Hari ini akang masih maafin kamu karena kamu lupa wajah akang, tapi satu hal yang harus kamu inget….. Insya Allah akang gak akan lupa sama wajah polos istri akang tersayang hehehehe”

Air mata gue berderai tak tertahan… gue bener-bener malu, jadi selama beberapa menit yang lalu gue kelihatan banget begonya depan suami gue sendiri.

“Diminum Teh Kotaknya, waktu akang baca CV kamu, katanya minuman kesukaan kamu teh kotak kan?”

Huaaaaaaaaaa… tambah malu gue, dia bisa inget apa yang jadi kesukaan gue, sedangkan gue sama wajah suami gue sendiri aja lupa.

“Akang…. aku…” pipiku memerah seketika menahan malu.

“Sebelum pulang kita makan donat dulu ya disini” tangan akang mencubit pipi merahku.

Disadur dari kisah nyata
Herlin Herliansah

Selasa, 09 September 2014

Kisah Penyesalan Istri Enggan Layani Malam Terakhir Suami

By Asqi Resnawan Kisah ini terjadi di Malaysia beberapa tahun yang lalu. Namun penyesalan berkepanjangan terus mengikuti sang istri. Berikut ini kisah lengkapnya seperti diterjemahkan secara bebas dari laman fitrihadi.com : Sebenarnya kami adalah pasangan yang romantis. Bahkan, teman-teman sering memperbincangkan keharmonisan kami. Meskipun bekerja, aku tetap melayani suami dan mengurus anak-anak dengan baik. Aku bersyukur suami memahamiku dengan baik. Ini membuat aku semakin sayang kepadanya. Sementara suamiku, di tengah kesibukannya, ia juga selalu membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik. Ia juga sering mengimamiku shalat. Aku bahagia dengan hubungan kami. Hari itu, Senin. Aku ingat betul. Aku pergi ke kantor pagi-pagi karena banyak urusan yang harus aku selesaikan. Termasuk janji bertemu dengan sejumlah klien. Biasanya jam 6 petang aku sudah berada di rumah, hampir bersamaan dengan azan Maghrib berkumandang. Aku lihat suamiku telah bersiap-siap untuk shalat Maghrib. Pun anak-anak telah tampil rapi, mereka sudah mandi dan tampak riang bersama ayahnya. Aku lihat suamiku sangat bahagia bersama anak-anak petang itu. Ba’da Maghrib, kami keluar ke sebuah restoran. Jaraknya sekira 5 kilometer dari rumah. Sepanjang perjalanan kami bergurau, ngobrol ke sana kemari, disertai tawa yang kadang-kadang lepas. Aku merasakan kegembiraan suamiku petang itu lain dari biasanya. Cara bercandanya, cara tersenyum dan tertawanya… Dalam hati aku hanya bisa bersyukur dan berbahagia. “Sudah jam 12.30 tengah malam, Bang. Ayo pulang,” kataku setelah melihat jam tangan. Tak terasa sudah larut. Tanpa banyak bicara, suamiku pergi ke kasir. Kami tiba di rumah dua puluh menit kemudian. Anak-anak kami yang jumlahnya tiga orang segera masuk rumah dan tidur. Usia si bungsu baru tujuh tahun, sedangkan si sulung berusia 12 tahun. Aku juga mulai mengantuk. Maklum, di jam segini dan setelah perut terisi dengan makanan lezat restoran tadi, bawaannya ingin langsung tidur saja. Di saat seperti itu suami membelai rambutku, ia menginginkan sesuatu. Tapi mataku terasa berat, aku ingin tidur. Suami membisikiku, ini permintaan terakhirnya. Namun, aku berpikir, aku mengantuk dan dia juga mungkin kecapekan. Lebih baik besuk saja. Perlahan-lahan suami melepaskan pelukannya. Pagi harinya, ada perasaan tak menentu. Seperti ada hal besar yang akan terjadi. Aku menelpon suami, tetapi tidak dijawab. Hingga kemudian aku dikejutkan dengan telepon dari kepolisian. Mereka mengabarkan bahwa suamiku kecelakaan dan memintaku segera datang ke rumah sakit. Hatiku seakan pecah saat itu. Aku ke rumah sakit, tetapi segalanya telah terlambat. Suamiku menghembuskan nafas terakhirnya sebelum aku tiba di sana. Air mata menjadi saksi betapa aku sangat kehilangan dirinya. Yang lebih kusesali, meskipun aku telah ridha dengan takdir dariNya, aku tidak memenuhi permintaan di malam terakhirnya. Hatiku dihinggapi perasaan bersalah yang luar biasa. Aku takut jika suamiku pergi menghadapNya dalam kondisi tidak ridha kepadaku. Dan aku tidak sempat meminta maaf kepadanya karena kini ia telah terbaring kaku. Aku jadi ingat dengan hadits Nabi, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang suami yang mengajak istrinya tidur bersama, lalu ditolak isterinya, maka malaikat yang di langit akan murka kepada istrinya itu hingga suami memaafkannya”. Setiap kali teringat suami, mataku gerimis. Pipiku basah. Aku hanya bisa memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi seluruh wanita muslimah di segala penjuru dunia. Jika suamimu memintamu, sepanjang kau mampu, penuhilah. Sebab engkau tak pernah tahu kapan tiba-tiba Allah mengambil suamimu. Dan semoga engkau selalu mendapatkan rahmatNya, tersebab suami yang selalu ridha padamu kapan pun juga. [Kisahikmah.com]

Minggu, 07 September 2014

Sejarah Asal-usul Berdiri-Nya DDI AD Mangkoso

Diskripsi DDI AD Mangkoso 
haji muhammad yusuf andi dagong di-angkat menjadi arung     (di swapraja soppeng riaja salahsatu kecamatan dalam wilayah kabupaten barru sulaweai-selatan.)tiga tahun kamudian beliau mendirikan tiga buah mesjid dalam wilayah kekuasaan-Nya,salah satu berada di mangkoso sebagai wilayah ibu-kota kerajaan.

namun mesjid tersebut tidak perna berisi jama'ahkarna kurang-Nya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran islam,untuk mencari solusi di-adakan pertemuan di swapraja(rumah basar kediaman raja) mangkoso pertemuan itu menyepakati untuk membuka lembaga pendidikan dengan meminta anre-gurutta H.muhammad As'ad seorang ulama memimpin yang memimpin madrasah/pesanteren MAI di-sengkang wajo,agar mengirim seorang murid-Nya yaitu,gurutta H.abdurrahman Ambo Dalle untuk mengelola lembaga pendidikan.(bugis-angajiang)yang akan di-buka di mangkoso.

Tanggal 29 syawal 1357 H.atau bertepatan 21 desember 1938, anregurutta H.abdurrahman Ambo Dalle,resmi membuka pesantren di mesjid jami mangkoso dengan sistem HalaQah,(bugis angajiang tudang)kamudian pada tanggal 20 dzulqaidah 1357 H.atau januari 1939 di-buka tingkatan Tahdiriyah,ibtidaiyah,,dan madrasah pesantren tesebut di beri nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) mangkoso dalam perkembangan-nya MAI membuka berbagai cabang daerah misal-Nya, di pangkep,soppeng,wajo,sidrap,majene, dan berbagai daerah lain-Nya.

-Tahun 1947 berdasar-kan pertemuan Alim-ulama/kadhi se-sulawesi-selatan serta guru-guru MAI. tanggal 16abiul awal 1366 atau 7 pebruari, nama nama Madrasah Arabiyah Islamiyah MAI mangkoso dan cabang-cabang-Nya di ubah menjadi (Darud da'wah wal-irsyad) DDI, sebagai organisasi da'wah dan sosial kemasyarakatan yang berpusat di-mangkoso.dua tahun kamudian atas permintaan arung mallusetasi yang meminta-Nya menjadi Kadhi Pare-pare, anregurutta H.abdurrahman Ambo Dalle,pindah di pare-pare dan menunjuk ( anregurutta H.Muhammad ambri said.)sebagai pengganti-Nya memimpin pesantren DDI mangkoso.

-Tanggal 1 muharram 1369,H. anregurutta H.abdurrahman ambo dalle selaku ketua umum DDI Memindah-kan pengurus pusat DDI dari mangkoso-ke pare-pare sementara pondok pesanteren DDI mangkosodi beri cabang status otonomdengan kewenangan penuh mengatur dan mengelola pesantren,namun secara organisasi tetap berada di bawah struktur PP-DDI sejak itu DDI berkembang pesat dan mengelola puluhan pesantren ratusan madrasah yang tersebar berbagai propinsi,khusus-Nya di wilayah Indonesia Timur.

-Atas kesepakatan para tokoh pendiri DDI, tanggal 17 ramadhan 1424 H.di tambah-kan nama-Nya anregurutta H abdurrahman Ambo Dalle di belakan nama DDI,sehingga menjadi nama (DDI abdurrahman Ambo Dalle). (DDI-AD) penambahan nama tersebut,selain untuk mengenang dan mengabadikan nama (anregurutta H abdurrahman Ambo Dalle) sebagai pendiri utama,juga di maksud'kan untuk melestarikan nilai/budaya serta dasar perjuagan beliau dalam membangun dan mengembangkan DDI hingga menjadi organisasi islam terbesar di-indonesia timur.

Kamis, 04 September 2014

Universitas Kehidupan

Jika semua yg kita kehendaki terus kita miliki,darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yg kita impikan segera terwujud,darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus dikabulkan,darimana kita dapat belajar IKHTIAR

Seseorang yg dekat dengan Allah,bukan berarti tidak ada airmata
Seseorang yg taat pada Allah,bukan berarti tidak ada kekurangan
Seseorang yg tekun berdoa,bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Allah yg berdaulat sepenuhnya atas hidup kita
Karena Dia tahu yg tepat untuk memberikan yg terbaik

Ketika kerjamu tidak dihargai,
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting,
Maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam,
Maka saat itu kamu sedang belajar MEMAAFKAN
Ketika kamu lelah dan kecewa,
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri,
Maka saat itu kamu sedang belajar KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yg sebenarnya tidak perlu kamu tanggung,
Maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI

Tetap semangat.....
Tetap sabar......
Tetap tersenyum....
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN.....

Allah menaruhmu di "tempat mu" yg sekarang bukan karena "kebetulan"

Orang yg hebat tidak  dihasilkan melalui kemudahan,kesenangan,dan kenyamanan
Mereka dibentuk melalui kesukaran,tantangan,dan air mata

Berbuat baik apapun kondisi Anda sekarang

Seorang sedang mendaki gunung
bersalju. semakin ia mendaki, ia
merasa kakinya makin lama
semakin beku.

Ia ingin sekali berhenti dan
berbaring di salju.

Namun, ia
sadar jika ia berhenti mendaki
dalam kondisi seperti itu maka itu
berarti kematian.

Sementara ia berjuang untuk terus
berjalan, kaki nya terantuk
sebuah gundukan, ternyata,
gundukan itu adalah tubuh
manusia.

Ia lantas membalik orang itu,
ternyata dia masih hidup, dengan
sisa tenaga Ia mengangkat org
tsb dan menaruhnya di
punggungnya dan kembali
melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian ia mulai
berkeringat dan merasakan aliran
darahnya mulai mengalir lebih
lancar, demikian pula dgn org yg
ditolongnya, ia telah sadar dari
pingsan nya dan mengucapkan
terimakasih kepada sang pendaki yg
telah menyelamatkannya.
“saya juga berterima-kasih kepada
Anda, Sebenar nya ketika saya
menolong Anda tadi, saya juga
telah menyelamatkan nyawa saya
sendiri”.

Sebenarnya, ketika kita
menolong org lain, kita juga
sedang menolong diri kita
sendiri.

Pertanyaannya adalah; berapa
banyak dari kita yg mau
melakukan nya ?

Berapa banyak dari kita yg mau
menolong sesama ?

umumnya kita akan berpikir,

”saya saja sedang susah, knp harus
pusing2 menolong dan
memperhatikan orang lain?”

Padahal, ketika kita menghibur
teman, kita sebenarnya sedang
menguatkan diri sendiri.

Ketika kita berkorban waktu,
tenaga,dan uang, kita pun
sedang memberkati diri kita
sendiri karena orang yg menabur pasti
akan menuai.

Jadi, tebarkan hal2 yg positif dan
bersiaplah utk meraih hal2 yang
terbaik .

Selamat berbuat kebaikan bagi
sesama.

Takut kepada Allah di kala sendiri

Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian.

Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah:
1⃣ Allah Maha Melihat dan Mendengar ...
2⃣ Jangankan gerakan tubuhmu, bahkan lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah ...
3⃣ Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan 'Atid senantiasa menyertaimu ...
4⃣ Bukan hanya buku catatan amalanmu yang akan menjadi saksi kelak pada hari kiamat, bahkan tanganmu dan kakimu akan menjadi saksi, sementara mulutmu ditutup, maka bagaimana engkau bisa membela dirimu?
5⃣ Bahkan kulitmu akan berbicara membeberkan aib-aibmu yang kau lakukan tatkala bersendirian ...
6⃣ Demikian juga bumi tempat pijakmu tatkala engkau bermaksiat akan ikut pula menjadi saksi ...
7⃣ Lantas bagaimana lagi jika ternyata yang memaparkan files aib-aibmu dan yang akan mengadilimu adalah Allah ...
8⃣ Lantas bagaimana lagi jika pengumbaran aib-aibmu ternyata di hadapan khalayak ramai, di hadapan kedua orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, para sahabatmu, & murid-muridmu yang selama ini hanya mengenal penampilanmu sebagai orang baik di hadapan mereka?

Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa khosyah kepada-Mu tatkala kami bersendirian

Rabu, 03 September 2014

KISAH NYATA MENGHARUKAN : AL-QURAN DAN SANG JENDRAL ROBERTO

Bismillah ... Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik .. itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara Ayat Suci yang amat ia benci. "Hai ... hentikan suara jelekmu! Hentikan ...!!!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih "Rabbi, waana'abduka ...".

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz ... Insya Allah tempatmu di Syurga." Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta'ala..  Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya eratGKN hbs-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.

Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi ( ibu ) yang tak sudah bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi ... Abi ... Abi ..." Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi ..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah ... siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.

"Saya Ahmad Izzah ..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. "Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi ... Abi ... Abi ..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusar.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..." Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha illallah, wa asyahadu anna Muhammadan Rasullullah ...'. Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

kemudian Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agama Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya ..." Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah ...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)

SUBHANALLAH
Semoga kisah ini dapat membuat hati kita luluh dengan hidayah Allah yang mudah-mudahan dapat masuk mengenai qolbu kita untuk tetap taat dan tunduk pada perintah Allah, dan senang untuk dekat kepada-Nya.

Aamiin Ya Rabbal'alaamiin

Hidup ini proses

Kita pernah "dilukai"...
Dan...
Mungkin pernah "melukai"...
Tapi...
Karena itu kita belajar tentang bagaimana cara menghargai,,,menerima,,,berkorban & memperhatikan...
Kita pernah "dibohongi"..
Dan...
Mungkin pernah "membohongi"...
Tapi...
Karena itu kita belajar tentang kejujuran
Andai kita tidak pernah melakukan kesalahan dlm hidup ini,,,
Mungkin kita tidak akan pernah belajar arti diri minta maaf & memberi maaf,,,
Karena,,,
Setiap waktu yg telah kita habiskan dlm hidup ini,,,
Tidak akan terulang kembali,,,
Namun,,,
Ada satu hal yg masih tetap bisa kita lakukan,,,
Yaitu,,,
Belajar dari masa lalu untuk hari esok yg lebih baik,,,
Hidup adalah proses...
Hidup adalah belajar...
Tanpa ada batas umur,,,
Tanpa ada kata tua,,,
Jatuh berdiri lagi,,,
Kalah mencoba lagi,,,
Gagal bangkit lagi,,,
Hingga Allah Ta'alla memanggil,,,
" WAKTU UNTUK PULANG "

Mati tidak kenal syarat

Sahabatku:
           Jgn tertipu
        dgn usia MUDA
        karna syarat Mati
         TIDAK harus TUA.

      Jgn terpedaya dgn
        tubuh yg SEHAT
       karna syarat Mati
       TIDAK mesti SAKIT.

     Jgn terperdaya dgn
       Harta Kekayaaan
                Sebab
    Si kayapun tidak pernah
     menyiapkan Kain Kafan
             buat dirinya
      meski cuma Selembar.

      Mari Terus berbuat BAIK,
         berniat untuk BAIK,
     berkata yg BAIK-BAIK,
   Memberi nasihat yg BAIK
Meskipun TIDAK banyak orang
      yg mengenalimu &
   Tidak suka dgn Nasihatmu,

        Cukuplah اَللّهُ  yg
     mengenalimu lebih dari
           pada orang lain.

      Jadilah bagai Jantung
          yg tidak terlihat,
     Tetapi terus berdenyut
     setiap saat hingga kita
terus dapat hidup, berkarya
     dan menebar manfaat
       bagi sekeliling kita
     sampai diberhentikan
              oleh-NYA.

            Sahabatku:

"Waktu yg kusesali adalah
        jika pagi hingga
     matahari terbenam,
  'Amalku tidak bertambah
            sedikitpun,
  padahal aku tahu saat ini
       umurku berkurang."

(Ibnu Mas'ud rodhiyallahu 'anhu)

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat

Pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku....

Aku teringat bahwa kecintaan Allah terhadap hamba-Nya bukan datang seenaknya hamba, tapi karena sebab-sebab yang disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya.

Aku coba untuk mentadabburi dan memutar file-file tentang hal itu yang terdapat di dalam al Qur'an. Aku berusaha mengukur diriku terhadap ayat-ayat itu dengan harapan aku menemukan jawaban terhadap kegundahan ini. Semoga aku termasuk ke dalam kelompok orang yang dicintai Allah.

Pertama sekali aku menemukan ayat al Qur'an yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang bertaqwa. Namun sayang, langsung batin ku berkata dengan jujur, aku tidak termasuk ke dalam golongan ini.

Langkah kedua, aku ketemu ayat yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang sabar. Dengan penuh pengakuan tulus batinku langsung mengakui; teramat jauh diriku dari kelas bergengsi ini. Betapa aku tidak mampu bersabar dalam menghadapi segala hal.

Langkah ketiga, aku menemukan ayat yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya. Bukan sok tawadhu', batin ku langsung terkulai mengakui betapa aku lebih banyak dikalahkan oleh rasa malas dari pada bersungguh-sungguh.

Langkah keempat, aku menemukan ayat al Qur'an yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berbuat baik. Batinku pun tersenyum getir sambil merenung penuh insaf, kebaikan apa yang sudah ku lakukan? Aku masih punya malu untuk tidak mengaku-ngaku termasuk kelompok orang baik.

Di saat itu aku berhenti merenung. Aku takut kalau-kalau aku tidak menemukan di dalam diriku sifat yang membuat Allah cinta kepadaku.

Kemudian aku mencoba untuk membuka lembaran amal apa saja yang pernah aku lakukan? Namun, jangankan mendatangkan keoptimisan, telingaku memerah sendiri, keringat dingin mulai berkucuran, aku berusaha langsung melupakannya. Aku malu dengan diriku sendiri. Ternyata semuanya bercampur dengan kemalasan, kekurangan, cacat, belum lagi perbuatan yang semata-mata itu dosa dan maksiat.

Ketika aku akan mengakhiri perenunganku, tiba-tiba tangan ku membalik mushaf al Qur'an yang berada di pangkuanku.

Saat itu mataku langsung tertuju kepada potongan ayat yang berbunyi:

إن الله يحب التوابين

".....Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat...." (al Baqarah: 222)

Seolah-olah aku merasa kalau ayat itu diturunkan kepadaku saat itu, untuk menghilangkan gundah di hatiku dan menimbulkan harapan kalau Allah juga cinta kepadaku.

Air mata haru tidak bisa terbendung dari mataku. Perasaan lembut menjalar dari hulu jantung sampai keseluruh pori-pori di tubuhku. Hatiku bergumam; ternyata aku juga dicintai Allah. Aku sampai terisak menahan haru.

Aku pun mulai melantunkan kalimat istighfar:

أستغفر الله الذي لا اله الا هو الحي القيّوم وأتوب إليه

Aku minta ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, yang Maha Hidup dan Maha Mengatur, dan aku bertaubat kepada-Nya.

Aku betul-betul berharap, meskipun aku jauh dari empat kriteria sebelumnya, jangan sampai aku juga tersingkir dari kelompok orang terakhir ini. Orang yang bertaubat atas segala dosanya.

Ya Allah, jadikan lah kami termasuk orang yang bertaubat dan jadikan lah kami termasuk orang yang mensucikan diri.

(Zulfi Akmal, Al-Azhar Kairo)

Rahasia Istighfar

Bismillah,
Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya, bahwasanya ia berkata,

”Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”,

yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”

yang lain lagi berkata kepadanya,”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”

Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”

Dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut

Maka Hasan Al-Bashri menjawab:”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri.tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh [ayat 10-12].” [Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah]
---

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا ﴿نوح:١۰﴾ 
(Nuh:10﴿
maka aku katakan kpd mrk: 'Mohonlah ampun kpd Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adlah Maha Pengampun-,

يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ﴿نوح:١١﴾ 
﴾Nuh:11﴿
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kpdmu dgn lebat,

وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهٰرًا ﴿نوح:١٢﴾ 
﴾Nuh:12﴿
dan membanyakkan harta dan anak2mu, dan mengadakan utkmu kebun2 dan mengadakan (pula di dlmnya) utkmu sungai2.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam pun brsabda:
"Barangsiapa yg beristighfar maka Allah akan menganugrahkan kebahagiaan dr setiap duka yang menimpanya, akan memberi jalan keluar dr setiap kesempitan dan memberi rizki dr jalan yg tdk disangka sangka". (HR. Ibnu Madjah)

"Barangsiapa yg mengucapkan istighfar di awal hingga akhir siang dan malam maka ia adalah ahli surga". (HR. Bukhari)

::Indahnya Islam,bagi kaum yg brfikir::

"SUDAHKAH KITA BERISTIGHFAR?"

"Agar Jangan Sampai Dikatakan"

Inilah kisah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.
Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini,

Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.
Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..".
"Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.."
"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru,
lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allahu Akbar..."

Selasa, 02 September 2014

"Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah"

Sebait Catatan Nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah.

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita, tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang, tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi... mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..

Kecewa itu biasa dan 'manusiawi' ... sungguh luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.

Memang... dakwah ini berat... karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang :

1. Memiliki hati sekuat baja.

2. Memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.

3. Memiliki kekuatan yang berlipat.

4. Memiliki keikhlasan dalam beramal yang meninggi.

5. Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.

Siapapun tak akan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini... mengarungi jalan perjuangan... kecuali dengan KESABARAN!!!

Karenanya... Tetaplah disini... dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh... Sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...

Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang berguguran karenanya.

Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri... karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan...

Jika bersama dakwah saja... kau serapuh itu...Bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...??? (Semoga bermanfaat)

Rekening Atas Nama Usman bin Affan radhiyallahu 'anhu

(Sebuah Kisah Nyata)

1. Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama USMAN BIN AFFAN.

2. Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Usman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?

Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka?

Penasaran? Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran.

3. Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih.

4. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli.

5. Mengetahui hal itu, Usman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.

6. Dengan semakin bertambahnya penduduk  Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

7. Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.

Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).

8. Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.

9. Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

10. Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.

Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

11. Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.

Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.

12. Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M).

Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Usman bin Affan.

13. Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.

14. Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.
The End..(Tarjim: ust.Asep Sobari Lc)

Senin, 01 September 2014

Super Camp III Bontang Sekolah Islam Terpadu Kalimantan Timur 2013

 Pelepasan kontingen Pramuka SDIT Ash-Shohwah oleh Kepala SDIT Ash-Shohwah (Syaprudin, S.Pd.I)

 Suasana baru tiba di bandara Temindung (Samarinda)

 Kak Nono (Pembina Pramuka SMPIT Cordova) bersama kak Heril (yang empunya blog...)




 Apel bersama di lapangan SD/SMPIT Cordova Samarinda dan dilepaskan oleh kak Sariko sebelum berangkat bersama ke Bumi Perkemahan Cibodas Bontang. Berdoa mulai.



 Peserta dari SMPIT Ash-Shohwah, lomba yel-yel.



 Ini nih si ganteng-ganteng dari SDIT Ash-Shohwah, Gugus Depan Muhammad Al Fatih - Fatimah Az Zahrah





 Narsis dulu ya, tu wa bangka.... upzzz tu wa ga pat maksudnya.


 Di bawah guyuran derasnya hujan dan dinginnya angin Bontang, para peserta tetap asyik mengikuti lomba-lomba.




 Ini sama kak Bimansyah (Ketua Panitia Super Camp III Bontang).

 Buang sampahnya dulu ya sebelum meninggalkan Bumi Perkemahan.



 Narsis bareng Kru Kalstar Aviation.



Capek banget ya nak... du duh...

 Selamat datang kembali di Bumi Batiwakkal.

 Klo yang ini suasanan di Bandara Kalimarau Berau.

 Baca doa dulu ya sebelum naik pesawat.

 Pukul kakak, semangat kakak...

 Suasana rapat seluruh pembina di malam pertama perkemahan.


 I know I can... apa lagi ya lanjutannya ???
Asma', kamu sendirian perempuan disitu. hus hus sana...